Saya hanya seorang ibu rumah tangga. Bukan ekonom, bukan pengamat politik, apalagi pejabat negara. Saya tidak paham grafik kurs, tidak mengerti istilah pasar global, dan tidak punya dolar. Tapi saya tahu satu hal, bahwa belanja kebutuhan dapur sekarang semakin berat.
Karena setiap pagi, saya yang berdiri di depan warung. Saya yang melihat harga beras naik pelan-pelan. Saya yang menghitung minyak goreng agar cukup sampai akhir minggu. Saya juga yang harus memutar otak ketika uang belanja tetap, tetapi kebutuhan terus bertambah.
Maka ketika ada pernyataan bahwa rakyat desa tidak memakai dolar sehingga tidak perlu panik saat dolar naik, saya merasa ada jarak yang begitu jauh antara mereka yang membuat kebijakan dengan kami yang menjalani kehidupan sehari-hari.
Memang benar, kami tidak memakai dolar. Tetapi kami merasakan akibatnya.
Harga sembako tidak naik karena kami tiba-tiba ingin hidup mewah. Harga naik karena biaya distribusi naik, bahan baku naik, pupuk naik, pakan ternak naik, dan semuanya akhirnya sampai ke meja makan rakyat kecil. Ketahuilah bahwa yang menanggung akhirnya bukan pejabat di ruang rapat, melainkan ibu-ibu yang harus memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.
Dan yang paling menyedihkan, rakyat kecil seperti kami sering diminta untuk terus memahami keadaan. Diminta bersabar. Diminta tenang. Sementara kehidupan terasa semakin sulit dari hari ke hari.
Sekarang pemerintah ramai membicarakan program makan siang gratis. Sebagai seorang ibu, tentu saya senang jika anak-anak bisa mendapatkan makanan bergizi. Tidak ada ibu yang menolak anak-anak makan dengan baik. Tapi saya juga tidak bisa menutup mata bahwa semua program itu pada akhirnya memakai uang rakyat.
Istilah “gratis” terdengar indah, tetapi kami tahu negara tidak punya pohon uang. Semua berasal dari pajak, utang, dan anggaran yang seharusnya juga bisa dipakai untuk memperbaiki banyak hal lain yang lebih mendesak.
Yang membuat hati saya semakin miris adalah ketika program bergizi itu justru kadang menampilkan makanan olahan ultra proses, junk food yang selama ini dihindari. Saya jadi bertanya dalam hati, apakah ini benar-benar tentang kesehatan anak-anak, atau hanya tentang proyek besar yang terlihat menarik di kamera?
Sebagai ibu rumah tangga, saya tahu makanan bergizi bukan sekadar kenyang. Gizi itu sayur segar, lauk yang baik, buah, dan makanan rumahan yang layak. Bukan sekadar makanan cepat saji yang dibungkus slogan modern.
Kadang saya merasa negeri ini semakin pandai membuat program yang terdengar hebat, tetapi lupa mendengar suara-suara kecil di dapur rakyat.
Sebab keresahan terbesar kami sebenarnya sederhana.
Kami ingin harga kebutuhan stabil. Kami ingin pendidikan anak tidak mahal. Kami ingin listrik tidak terus naik diam-diam. Kami ingin suami kami pulang membawa penghasilan yang cukup tanpa harus bekerja sampai kelelahan. Kami ingin hidup yang wajar, bukan kemewahan.
Namun hari ini semuanya terasa semakin sulit dijangkau.
Lucunya, setiap kali rakyat mengeluh, selalu ada narasi bahwa ekonomi sedang baik-baik saja. Angka pertumbuhan diumumkan dengan bangga. Investasi disebut meningkat. Program-program baru terus diperkenalkan.
Tetapi mengapa rakyat kecil justru semakin sering merasa cemas?
Mungkin karena statistik tidak pernah benar-benar bisa menggambarkan isi dompet seorang ibu saat berdiri di depan kasir.
Mungkin karena angka-angka itu tidak pernah merasakan bingungnya memilih antara membeli telur atau membeli susu anak.
Dan mungkin karena orang-orang yang berkata “jangan panik” sudah terlalu jauh dari kehidupan yang harus menghitung setiap rupiah.
Saya tidak membenci negara ini. Saya justru menulis karena peduli. Karena saya ingin pemerintah benar-benar melihat rakyat, bukan hanya melihat data. Mendengar suara dapur rakyat kecil, bukan hanya suara tepuk tangan pada pendukungnya.
Karena di balik semua pidato tentang kesejahteraan, ada banyak ibu rumah tangga yang diam-diam sedang lelah.
Lelah menenangkan anak ketika jajanan semakin mahal. Lelah mengatur uang belanja yang semakin kecil nilainya. Dan lelah hidup di negeri yang sering meminta rakyat mengerti keadaan, tetapi terlalu jarang benar-benar mengerti rakyatnya sendiri.
(Artikel ini merupakan opini pribadi dari Khansa Maria, seorang ibu rumah tangga, magister ilmu komunikasi, penulis, pelaku usaha digital)

Comments
Post a Comment