Selama ini, pendidikan sering diposisikan sebagai urusan akademik semata, sekolah mana yang terbaik, nilai siapa yang paling tinggi, dan ijazah apa yang paling menjanjikan. Namun semakin aku mengamati realitas kehidupan, terutama dari sisi finansial, aku menyadari satu hal penting: pendidikan adalah keputusan finansial jangka panjang, baik bagi keluarga maupun bagi anak itu sendiri.
Setiap pilihan pendidikan, sadar atau tidak, selalu melibatkan pengelolaan sumber daya: uang, waktu, energi, bahkan kesehatan mental. Ketika orang tua membayar biaya sekolah, les tambahan, atau aktivitas penunjang lainnya, sesungguhnya mereka sedang melakukan alokasi modal. Pertanyaannya bukan lagi sekadar mahal atau murah, melainkan apakah pengeluaran tersebut benar-benar membentuk manusia yang siap hidup, atau hanya memenuhi standar sosial semata.
Aku juga mulai mempertanyakan asumsi lama bahwa biaya tinggi selalu berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran. Banyak pengeluaran berlabel “pendidikan” yang sejatinya lebih dekat ke konsumsi, membeli rasa aman, gengsi, atau pengakuan, ketimbang investasi yang memberi dampak jangka panjang. Sementara itu, hal-hal yang sering dianggap sepele seperti waktu orang tua, kebiasaan membaca di rumah, ruang berdialog, dan pengalaman hidup justru jarang dihitung sebagai aset, padahal pengaruhnya sangat besar.
Di sisi lain, waktu orang tua sendiri adalah aset finansial yang kerap tak terlihat. Ketika keluarga memilih jalur pendidikan tertentu, sesungguhnya mereka sedang memilih: menukar uang dengan layanan eksternal, atau menukar waktu dan keterlibatan langsung dalam proses belajar anak. Keduanya sah, tapi masing-masing memiliki konsekuensi finansial dan emosional yang berbeda.
Lebih jauh lagi, pendidikan seharusnya membekali anak dengan keterampilan hidup, termasuk cara berpikir kritis, berkomunikasi, mengenali nilai diri, dan memahami uang sebagai alat, bukan tujuan. Tanpa itu, biaya pendidikan setinggi apa pun berisiko tidak memberi pengembalian yang nyata dalam kehidupan dewasa mereka.
Pada akhirnya, aku melihat pendidikan sebagai bagian dari manajemen risiko finansial keluarga. Anak yang mengenal dirinya, terbiasa belajar secara mandiri, dan memiliki ruang eksplorasi yang sehat, berpotensi lebih siap menghadapi dunia kerja, perubahan ekonomi, dan ketidakpastian hidup. Kesalahan arah pendidikan bukan hanya soal waktu yang hilang, tapi juga biaya finansial dan emosional yang mahal.
Comments
Post a Comment